BNN Aceh Selatan dan Rumoh Pangan Aceh Gelar Pelatihan Budidaya Kacang Koro di Kluet Timur
PROKOPIM, TAPAKTUAN – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Aceh Selatan bekerja sama dengan Yayasan Rumoh Pangan Aceh (RPA) menggelar pelatihan dan penanaman kacang koro pedang selama tiga hari dimulai sejak 21 hingga 23 Mei 2025 di Gampong Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Aceh Selatan yang diwakili oleh Asisten II (Asisten Ekonomi dan Pembangunan) Willi Cahyadi Darwin, S.Sos, dalam sambutannya ia mengapresiasi inisiatif dari BNNK Aceh Selatan. Menurutnya langkah ini berkelanjutan dan merupakan langkah konkret untuk menjauhkan masyarakat, khususnya generasi muda, dari bahaya narkoba dengan memperkuat ketahanan ekonomi melalui pertanian produktif dan berkelanjutan.
” Program ini berdampak langsung pada masyarakat dan dapat direplikasi di gampong-gampong dalam Kabupaten Aceh Selatan, ” ucapnya.
Kepala BNNK Aceh Selatan, Nuzulian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut rapat koordinasi lintas sektor yang dilaksanakan pada 15 April 2025 di BKPSDM Aceh Selatan yang dihadiri langsung oleh wakil Bupati Aceh Selatan H. Baital Mukadis.
“Ini adalah strategi BNN dalam mencegah penyalahgunaan narkoba dengan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui budidaya tanaman produktif. Kami ingin masyarakat tidak lagi tergoda menanam tanaman terlarang. Solusi berbasis ekonomi seperti ini sangat relevan untuk pencegahan dini,” ujarnya.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber utama yaitu Rivan Rinaldi (Direktur RPA) dan Talyani (Ketua Balai Penyuluh Pertanian Kluet Timur). Dalam sesi pelatihan, Rivan menjelaskan bahwa kacang koro pedang memiliki potensi besar sebagai alternatif pengganti kedelai.
Menurutnya saat ini, kebutuhan kedelai di Aceh mencapai sekitar 500 ton per bulan untuk industri tahu dan tempe, dan seluruhnya masih diimpor dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina.
“Kacang koro mudah dibudidayakan, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan bisa diolah menjadi tempe, kecap, tepung, hingga keripik. Ini peluang besar untuk petani lokal sekaligus memperkuat kemandirian pangan kita,” jelas Rivan.
RPA, menurut Rivan, telah menanam kacang koro seluas 6 hektare di Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan target mencapai 10 hektare pada akhir Mei. Semua hasil panen ditampung dengan harga Rp. 6.000 per kilogram.
Lebih lanjut, Rivan mendorong Pemkab Aceh Selatan agar mendukung pembangunan ekosistem pertanian kacang koro, termasuk pembangunan rumah produksi tempe agar hasil panen dapat terserap optimal di pasar lokal.
“RPA siap mendampingi dari hulu ke hilir, mulai dari budidaya, pelatihan pengolahan, hingga pemasaran. Kami sudah bermitra dengan tiga rumah tempe di Banda Aceh dan Aceh Besar untuk menyerap hasil panen petani. Kami harap model ini juga bisa berkembang di Aceh Selatan,” ujarnya.
Program ini mencerminkan pendekatan kolaboratif antara pemberdayaan ekonomi, transformasi pertanian, dan upaya pencegahan narkoba berbasis masyarakat.
” Inisiatif serupa dapat diperluas ke seluruh wilayah Aceh guna menciptakan desa yang mandiri, sehat, dan bebas dari narkoba, ” harapnya.